Vincent Vega is a character in Quentin Tarantino's Pulp Fiction, portrayed by John Travolta in an Academy Award-nominated performance. He is the only character to appear in all story lines in the movie (aside from Marsellus Wallace and Mia Wallace). He is the brother of Vic Vega, a character in Reservoir Dogs.Vincent is a hitman working for mob boss Marsellus Wallace (Ving Rhames). He is usually partnered with Jules Winnfield (Samuel L. Jackson) when he is ordered to kill someone.
Vincent is an "Elvis man": He wears a bola tie with his suit, he has long hair pulled back into a ponytail, and he orders his Douglas Sirk Steak "bloody as hell." Despite being a hitman, Vincent shows some signs of humanity, such as scrupulous loyalty and a general concern for the few people he cares about. He is also a heroin user. He resides in Redondo Beach, as he mentions to Winston Wolfe when Wolf offers him a ride home.
[edit] In the film
(Note: the following summary is told in the chronological order in which they occur in the film, rather than in the non-linear style portrayed in the film.)
At the beginning of the film, Vincent has returned home from a long vacation in Amsterdam. He waxes philosophically with his partner Jules about the implications of ordering food at McDonald's in Paris. The two then kill a group of college students who had tried to steal a mysterious briefcase from Wallace, but are nearly killed themselves when one of the students fires on them, narrowly missing. On the way back, Vincent gets into an argument with Jules, who is convinced that they had been saved by a miracle; in the heat of the moment, Vincent accidentally shoots and kills Marvin (Phil LaMarr), who they had been instructed to leave alive, covering their car with blood and brain matter.
They take refuge with Jules' friend Jimmy Dimmick (Quentin Tarantino), and call Winston Wolf (Harvey Keitel), Wallace's personal fixer. They dispose of the evidence, and later resolve their differences over a cup of coffee in a diner. Just then, however, a young couple (Tim Roth and Amanda Plummer) try to rob the coffee shop, and demand the briefcase from Jules, who refuses and holds one of the robbers at gunpoint. Vincent comes to Jules' defense, but Jules tells him to stand down. Vincent then listens, spellbound, as Jules explains to the robber that he was going to forsake his life of crime.
After the restaurant ordeal, Vincent and Jules go to Wallace's hideout to return his briefcase to him. While there, Vincent meets Butch Coolidge (Bruce Willis), and openly insults him. The encounter is then cut short by Wallace calling Vincent to his table.
Keeping an Eye on Mia
Wallace asks Vincent to keep an eye on his wife, Mia (Uma Thurman), and take her out to dinner while he is away. The two form an instant attraction as they compete in (and steal) the "Jackrabbit Slim's Twist Contest" at the '50s diner they go to, but Vincent tells himself to ignore his feelings. While he is in the bathroom, Mia finds a pouch of heroin in his coat and snorts it, mistaking it for cocaine, and lapses into an overdose. Panicked, Vincent takes her to his dealer, Lance (Eric Stoltz), who helps him to revive her with a shot of adrenaline to the heart. Vincent takes her home, and blows her a kiss goodnight.
Death
Vincent encounters Butch for the second time at Butch's apartment. By this time, Butch had double-crossed Wallace, making him a target. While in the apartment, Butch notices an MAC-11 on the kitchen counter. As Butch picks up the gun, he hears the toilet flush in the bathroom. Vincent walks out of the bathroom only to find himself staring down the barrel of his boss' gun, who had left it when he had gone to buy coffee and donuts. Seconds elapse, in which the two silently recognize each other, before a pair of Poptarts jump out of the toaster and Butch pulls the trigger, killing him.
Naah.. itu tadi merupakan artikel tentang Vincent Vega yang merupakan sebuah tokoh cerita yang sangat gua paporitin. nah kalo yang ini Vincent Vega yang merupakan band indie dalam L.A. Lights Indiefest...
01 Maret 2007 - 13:26
Meet The Indie Hero #3
Di artikel sebelumnya, kita sudah berkenalan dengan Gerbang, Hollywood Nobody, Key Kuno, dan Lovely Tea. Sekarang saatnya mengenal siapa sih empat band lagi yang mengisi album kompilasi ini.
Pegawai Negeri
Band ini berawal dari komunitas Weezer fans di Bandung, yaitu Yudi (vocal), Egi (guitar), Obbo (guitar), Chupez (ex-bass), dan Dedy (drum). Nama Pegawai Negeri diambil dari cita-cita salah satu personil yang ingin menjadi seorang pegawai negeri, namun karena satu alasan, dia tidak dapat mewujudkannya. Hingga akhirnya pada saat dia berencana untuk membentuk sebuah band, cita-cita untuk kembali menjadi pegawai negeri kembali teringat. Dia dan personil lain kemudian sepakat untuk menamai bandnya dengan Pegawai negeri. Band ini terbentuk pada tahun 2003. Pada tahun 2004terjadi pergantian personil. Chupez mengundurkan diri dan digantikan oleh Thoriq (bass), ditambah satu personel yaitu Berland (keyboard)
70s Orgasm Club
Nama 70s Orgasm Club, yang beranggotakan Ant (vocal), Rio (bas) dan Echo (drum), diambil dari judul lagu salah satu band favorit mereka Corduroy, band retro acid jazz Inggris. Adapun penambahan awalan 70s adalah sebuah penghargan kepada sebuah decade dimana musik funk mulai berakar. Funk era 70an merupakan pengaruh dasar dari 70s Orgasm Club. Lagu-lagu 70s Orgasm Club dalam penulisan liriknya sangat dipengaruhi oleh lirik musik funk/soul yang banyak berbicara tentang kepositifan dalam hidup, menaklukan dunia dengan cinta dan ajakan untuk menjauhi kekerasan serta kebencian. Musik mereka merupakan peleburan antara musik funk/soul, blues, rock dan psychedelic.
Vincent Vega
Band ini beranggotakan 5 personil, yaitu Ariel William (vocal), Muhammad Sougan (guitar), Fikri Hadiansyah (guitar), Agung (Bass), Rangga Saylendra (Drum dan memilii seorang manager, Sandi Boi. Seluruh lagu yang dibawakan oleh Vincent Vega merupakan karya band mereka sendiri, Motto mereka adalah “To develop human kind potentials, and give positive impacts to the society.” Band Vincent Vega adalah Primal Scream, Interpol, dan The Departure.
Vox
Vox dimulai dari keinginan Joseph Sudiro (vocal, Bass) untuk membuat proyek folk Dylan-esque, berlanjut dengan menemukan kesamaan di jalur vintage dengan Vega Antares (guitar, vocal) yang banyak dipengaruhi oleh musik The Beatles.Seiring dengan waktu, secara tidak langsung mereka berpose engan band Lullaby, band yang memiliki vokalis cewek Gabriel Mayo (drum, vocal), dan mengajak Donny Setionamdono seagai backing vocal dan keyboard. Mereka memutuskan untuk bernyanya bersama-sama dan membentuk sebuah band. Sebagai awal, mereka menulis 4 lagu yang akan digunkan untuk penampilan perdana dan ternyata dari gigs pertama mereka mendapat chemistry yang kuat. Pada bulan januari 2006, mereka memutuskan untuk meneruskan kabersamaan mereka beserta konsep musiknya dengan nama Vox.
Artikel Vincent Vega dari sumber rubrik BELIA-Pikiran Rakyat...
Vincent Vega
”Kita Lagi Berusaha untuk Pinter!”
Di tahun 1994, tersebutlah sebuah film sensasional pemenang Oscar berjudul "Pulp Fiction". Poster filmnya yang bergambar wajah cantik Uma Thurman pun enggak kalah tenar. Ternyata, film ini belum berhenti menyebarkan virusnya! Buktinya di Bandung, sekelompok anak muda sepakat membuat band dengan mengusung nama tokoh utama "Pulp Fiction"! Please welcome, Vincent Vega!
Alasan apa, sih, yang bikin Ariel (vox), M.S.N. (gitar), Agung (bas), Rangga (drum), Fikri (gitar), menamai bandnya Vincent Vega? Simak penuturan mereka, pas belia temuin seusai manggung, Sabtu (25/11).
"Hmm… Vincent Vega itu karakter malas mikir, padahal dia itu pinter. Eh malah terlalu pinter, ya!" kata Ariel atau El (panggilan akrabnya) membuka obrolan. Nambahin omongan El, M.S.N. mengibaratkan Vincent Vega sebagai orang yang saking cerdasnya bisa menyelesaikan persoalan lebih cepat. "Jadi kalau dari A ke D, dia males lewat ke B sama C," gitu kata cowok chubby ini.
Personel Vincent Vega yang lainnya (kecuali Fikri yang enggak hadir karena sakit) langsung mengangguk-anggukkan kepala pertanda setuju dengan perkataan Ariel. Terus, apa benang merahnya dengan band kalian? "Yah, Vincent Vega itu kita banget! Hahaha… kita lagi berusaha untuk pinter, deng!" ujar El lalu tertawa.
Vincent Vega bukannya mau menyombongkan diri, lho! Menurut kabar yang belia denger, aslinya mereka emang murid-murid berprestasi di sekolahnya. Sekarang pun, di tengah kesibukannya, mereka tetap getol berkuliah di ITB dan Unpad. Mendengar ini, personel Vincent Vega hanya tersenyum simpul. "Pendidikan itu penting banget, karena kita hidup di dunia ketiga. Negara ini udah susah banget, kalau kita ninggalin pendidikan, kita mau jadi apa?" kata El. Wah, belia setuju banget sama prinsip Vincent Vega yang satu ini.
Meskipun terhitung sebagai pendatang anyar, nama Vincent Vega ini udah lumayan dikenal di Kota Bandung. Terlebih setelah mereka masuk kompilasi festival band indie. Beberapa musisi andal yang belia temuin bahkan menyebutkan nama mereka sebagai the rising star. Penampilan band yang juga menyukai At The Drive-In ini emang pol. Lagu-lagunya beraliran rock, tapi nuansanya beda banget. Lebih powerfull, apalagi dari segi lirik, hehehe ini menurut belia, ya.
Menanggapi ini, Vincent Vega sedikit merasa terbebani. "Patut disyukuri, lah!" ucap Ariel. "Meskipun agak susah juga menghadapi ekspektasi orang yang seperti itu, tapi kita menjalaninya sebaik mungkin!" timpal M.S.N.
Anyway, udah beberapa kali belia nonton penampilan Vincent Vega, di antaranya waktu mereka jadi opening act microgigs The S.I.G.I.T di TRL. Di tengah-tengah lagu, tiba-tiba El pergi ke toilet. Waduh, ini semacam stage act atau…? "Hehehe… saya kebelet pipis, itu aja!" bela cowok yang selalu tampil klimis ini.
Ternyata, menjadi opening act The S.I.G.I.T membawa banyak cerita lagi buat Vincent Vega. "Habis manggung di situ, gitar Fikri dan efeknya hilang dicuri!" keluh Ariel. Ternyata kesialan demi kesialan terus berlanjut untuk Vincent Vega. Mulai dari motor dan mobil yang hilang, sampai gadget El yang rusak. Yang pada kehilangan barang-barang berharga ini cuma bisa ketawa-ketawa doang pas belia tanya gimana perasaannya sekarang. Hehehe, mungkin kalian perlu syukuran dulu kali! Better luck next time, ya!***
Sabtu, 08 September 2007
all about [VINCENT VEGA]
Diposting oleh
sheffield toADs
di
04.31
0
komentar
Band- band Indie - The S.I.G.I.T.
Di TV- TV suka pada liat kan, kalo acara- acara gede kaya misalnya acara ultah sebuah channel TV pasti diisi pertunjukkan heboh. Zaman sekarang kan pada heboh- heboh tu, palomba-lomba siapa yang acaranya paling heboh. Selalu pertunjukkan itu diisi oleh penampilan band-band yang uda terkenal biar banyak nyang nongton. Sementara band- band indie yang musiknya hasil kerja keras itu pada ripuh nyariin cara supaya bisa publikasi band-band mereka itoe. Karna itulah, disini saya akan berusaha sekuat tenaga jasmani rohani untuk ngumpulin info- info band indie atoupun yng uda pro di blog sya inie. Halah bacot teuing aing teh, intina mah ngan ngumpulkeun info- info band yang ada di indo ini, biar kalo sukur- sukur ada yang buka blog gwa ini bisa enakeun weh kitu ngebacanyah. Iya ndak?? Kalo begitchu, mari kita liat dari band2 paporit aing heula, kalo mau ditampilin band- band yang laennya gampang lah, tar dicariin kalo gw lg kurang kerjaan, heu2...
Nah, karna dari itu, ini dia liputan dari ajang band- band indie yang kata gw paling hebooh, check it out...
L.A. LIGHTS INDIEFEST
01 Maret 2007 - 13:21
The SIGIT Paling Ditunggu
Malam itu, di AACC, ketika MC Ringgo dan Vecky menyebutkan nama The SIGIT, respon histeris selalu tercipta dari kerumunan anak-anak indie. Waktu Rekti sang vokalis tampil sendirian di Ciwalk juga penonton bersorak sambil meneriakan nama The SIGIT. Belum lagi ketika Rekti tampil bersama Mocca di awal show di AACC. Saat itu, Mocca yang seharusnya dapat jatah tampil malah harus menghadapi ratusan anakl indie yang berteriak “SIGIT.. SIGIT.. SIGIT..” Begitu Rekti muncul dengan menggendong gitar di sebelah Arini, si vokalis Mocca.
The SIGIT, yang bukan nama orang namun merupakan singkatan dari The Super Insurgent Group of Intemperance Talent, adalah band yang memang paling di tunggu oleh sebagian besar komunitas indie yang hadir dalam acara Launching Album Kompilasi LA Lights Indiefest 2006 itu. Band yang pertama kali mengeluarkan single di tahun 2004 ini tergolong cepat melesat dalam scene musik indie di Bandung. Begitu single perama mereka Soul Sister dimainkan di radio Bandung, animo komunitas indie terhadap band ini melesat tinggi.
Band yang beranggotakan Farri (gitar), Acil (drum), Adit (bass), dan Rekti (vocal/gitar) ini adalah salah satu dari banyak band yang muncul jauh setelah kepopuleran garage rock terbangun. Rock n Roll adalah aliran yang dipilih oleh band ini walaupun sekarang kepopulerannya tidak sebesar tahun 70an dimana band-band Rock n Roll yang juga menjadi inspirasi The SIGIT seperti Led Zeppelin, Liverpool, T-rex, Lynyrd Skynyd, The Rollis, dan David Bowie.
Pada penampilan The SIGIT malam itu di AACC juga terlihat warna dari band-band 70an tersebut. Walaupun begitu, The SIGIT masih bisa menyajikan musik mereka dengan karakternya sendiri. Menjadi insparsi bukan berarti meniru. Itu lah yang berhasil dibuktikan oleh The SIGIT. Tak heran bila ratusan anak indie yang hadir di AACC malam itu baik di dalam maupun di luar menyambut The SIGIT dengan antusiasme yang luar biasa. Orisinalitas mereka memang pantas mendapat sambutan seperti itu.
01 Maret 2007 - 12:50
Panasnya AACC #2
Aksi serta kobaran spirit indie belum berakhir malam itu. Setelah D’Rinos tampil menghibur sekitar 400 anak indie di Asia Africa Cultural Center (AACC) dengan lagu pop oldiesnya, histeria malam itu dilanjutkan oleh Polyester Embassy. Band yang baru merilis album dengan Fast Forward Records ini langsung memulai penampilannya dengan suara efek pipe organ yang dihasilkan oleh synthesizer. Menyulap suasana malam itu menjadi lebih dark dan misterius.
Suara disambut dengan iringan layer-layer gitar yang dimainkan oleh Elang Eby, frontman band itu. Tiga lagu penuh distorsi dan efek yang dibawakan Polyester Embassy semuanya berasal dari album mereka yang baru saja rilis, Tragicomedy. Terlepas dari style mereka yang terlihat terinspirasi dari Radiohead, penampilan Polyester Embassy malam itu berhak atas applause meriah.
Polyester Embassy turun, kini giliran MC Ringgo dan Vecky mempersembahkan sebuah video klip yang sengaja dibuatkan untuk salah satu finalis LA Lights Indiefest 2006, Hollywood Nobody. Irama bossas mengalun bersamaan dengan ditayangkanya video klip mereka di big screen panggung. Di tengah-tengah pemutaran klip, lampu panggung menyala perlahan, dan sudah ada personil Hollywood Nobody disana siap untuk mensinkronkan live performance dengan video klip itu. Pengalihan fokus penonton dari video klip ke live performance berjalan sangat rapih. Penampilan Hollywood Nobody malam itu benar-benar berperan sebagai cooling sound.
Seusai Hollywood Nobody beraksi, kini giliran band yang malam itu sudah ditunggu-tunggu, The SIGIT. Ringgo dan Vecky langsung menginstruksikan penonton yang di dalam untuk bangun dari posisi lesehan mereka. Pintu pun dibuka lebar-lebar agar penonton yang masih di luar bisa kebagian masuk ke dalam. Namun masih banyak saja penonton sial yang gak bisa masuk karena terlalu penuh.
Melodi Rock and Roll langsung meluncur membuka penampilan The SIGIT malam itu. Disusul dengan vocal Rekti yang melengking, membuat semua penonton sing along dengan lagu yang dinyanyikannya. Kedahsyatan The SIGIT tidak hanya terasa di dalam, penonton yang di luar pun pada jingkrak-jingkrak di depan big screen. Cuma The SIGIT yang bisa melakukan hal semacam ini malam itu. Setelah lagu terakhir selesai, Rekti sang vokalis pun tampaknya terbawa suasana dan melompat ke arah crowd di mosh pit. Usai penampilan mereka, acara ditutup dan rakyat indie terlihat meninggalkan AACC dengan ekspresi puas.
01 Maret 2007 - 13:05
Outdoor Bukan Masalah #1
Antusiasme komunitas Indie Bandung sangat besar malam itu. Launching Album Kompilasi LA Lights Indiefest 2006 tampaknya sudah menjadi agenda malam mingguan anak-anak indie di Bandung. Baliho besar yang terpampang di beberapa sudut kota Bandung bagaikan undangan pesta bagi mereka untuk menikmati musik-musik indie. Selain beberapa finalis LA Lights Indiefest yang kan tampil malam itu, acara juga dimeriahkan oleh band-band indie papan atas seperti Mocca, Polyester Embassy, dan The SIGIT.
Hall indoor AACC tidak bisa menampung seluruh anak indie yang berdatangan. Karena itu, banyak anak indie yang tidak bisa masuk karena di dalam hall AACC sudah seperti lautan manusia. Panitia terpaksa menutup pintu agar tidak terjadi kecelakaan karena kebanyakan penonton. Tak bisa dibayangkan apabila Rock n’ Roll Mafia dan Pure Saturday tidak batal mengisi acara ini. Massa pasti akan lebih membludak lagi.
Tidak kebagian masuk bukan berarti anak indie harus pulang. Panitia sudah mempersiapkan semua yang dibutuhkan untuk menghadapi antusiasme lebih dari yang diperkirakan. Penonton yang gagal masuk tetap bisa menikmati acara karena sudah disediakan mobile stage milik Radio Ardhan serta big screen yang menampilkan live show di dalam hall AACC.
Penonton yang berada di luar juga tidak dibiarkan begitu saja. Sementara MC Vecky memandu acara di dalam hal, MC Ringgo keluar menuju mobile stage dan berinteraksi dengan penonton di luar. Itu membuat penonton yang di luar pun merasa menjadi bagian dari acara ini. Interaksi antara Ringgo dan Vecky yang dihubungkan melalui big scren pun terasa kompak, jadi suasana indoor maupun outdoor tidak garing.
Namun atmosfir di luar tidak sepanas di dalam yang bisa berhadapan langsung dengan artis-artis di panggung, karena itu mungkin respon penonton-penonton yang di luar terhadap show malam itu tidak semeriah di dalam. Kondisi di luar terasa lebih nyaman karena tidak terlalu berdesak-desakkan dan tidak gerah seperti di dalam.
20 Februari 2007 - 16:49
Meet The Indie Hero #1
Album kompilasi LA Lights Indiefest 2006 telah diluncurkan. Dua belas band indie yang menang dalam ajang LA Lights Indiefest 2006 menyumbangkan lagunya di sini. Siapa saja sih mereka? Ayo kita temui satu per satu.
Airport RadioTerbentuk pada awal tahun 2005. Airport Radio beranggotakan Dita (Vokal), Ign. Ade (Bass), Gideon (Keyboard), dan Moki (Drum). Mereka berempat menawarkan identifikasi eksperimen suara-suara bergenre dark wave dalam setiap penampilan mereka. Dengan identifikasi ini, Airport Radio berharap mampu menjadi oase yang menyuarakan endapan emosi di tengah-tengah keriuhan gelombang karakter musik saat ini.
C’CordBand asal Bandung ini beranggotakan Beng-Beng (bass), Unka (gitar), Ari (vocal), Sefty (keyboard), dan Isan (drum). C’Cord pertama kali tampil di publik pada tahun 2002 pada sebuah event besar di Bandung. C’Cord meminkan lagu-lagu karya sendiri dalam bahasa Inggris dengan memasukkan unsur musik eksperimental. Sampai sat ini, C’Cord sudah menghasilkan beberapa buah lagu ciptaan mereka yang sering diperdengarkan kepada audiensnya di banyak event yang mereka ikuti.
DojihatoriBand ini berdiri pada Oktober 2000. Band yang beraliran brit pop ini beranggotakan Yuma (vokal), Windho (gitar), Rinto (gitar), dan Virgi (bass). Pertama kali dibentuk, band ini bernama Magic Pie dan masih menjadi band SMU 1 Muhammadiyah Yogyakarta. Nama Dojihatori sendiri katanya diambil dari bagian-bagian nama para personil. Pada awalnya, band ini hanya berdiri untuk menyalurkan hobi para peronilnya, tetapi pada akhirnya mereka tergerak untuk lebih menekuni musik. Lagu-lagu mereka banyak ditulis dalam bahasa Inggris karena mereka merasa lebih bebas berkspresi dalam bahasa Inggris.
D’RinosBeranggotakan Rinal (vokal) Amy (Bass), Rano (Drum) dan Sigit (Gitar), D’Rinos diambil dari nama-nama personilnya. D’Rinos yang dibentuk pada tahun 2006, sebelum memakai nama D’Rinos, menamai bandnya dengan nama Inner Light (2001) dan Airis (2004) dan biasa membawakan lagu-lagu Top 40, oldies dan lain-lain. Namun untuk mengembangkan kreatifitas dalam bermusik, D’Rinos mulai berusaha dan mencoba membuat lagu-lagu karya sendiri sesuai dengan ciri khasnya yang kental ala band 70an. Dengan dana dan fasilitas yang terbatas, mereka berusaha memberikan yang terbaik untuk pendengar musik.
20 Februari 2007 - 16:51
Meet The Indie Hero #2
Empat Band sudah dibahas dalam artikel sebelumnya. Setelah mengenal Airport Radio, C’Cord, Dojihatori, dan D’Rinos, kini mari kita coba kenali empat band berikutnya yang juga mengisi album LA Lights Indiefest 2006.
GerbangBand ini terbentuk pada tanggal 3 Juli tahun 2002. Waktu itu mereka menggunakan nama Fresh Cassava. Kala itu mereka lebih banyak memainkan lagu-lagu karya musisi lain. Baru pada tahun 2003, mereka lebih banyak meyakinkan diri untuk menciptakan lagu karya sendiri dengan meramu berbagai aliran musik seperti rock n roll, oldies pop, ballads dan pop alternatif. Pada tahun 2006, mereka mengubah nama band mereka menjadi Gerbang, dengan harapan bisa menjadi pintu masuk menuju kesuksesan dalam bermusik. Gerbang sendiri terdiri dari Erick Nabo (vokal), Angky (gitar), I’am (bass), Walle (gitar) dan Doorz (drum).
Hollywood NobodyDibentuk dengan niat iseng-iseng pada tangal 29 September 2005, Hollywood Nobody yang beranggotakan Dian (Lead vocal), Romy (gitar), Fery (bass), O’o (Backing vocal), Irma (keyboard/backing vocal). Miba (drum)dan Dilink (violin). Pada awalnya mereka hanya membawakan lagu orang lain yang bergenre bossanova. Sampai pada akhirnya mereka berkomitmen untuk lebih serius dan menentukan konsep bermusik mereka yang lebih condong pada kesederhanaan bermusik dan mulai menciptakan lagu-lagu yang simple tapi dalam maknanya. Nama Hollywood Nobody sendiri sebenarnya adalah istilah untuk orang-orang yang bukan siapa-siapa di kota industri hiburan terbesar di dunia. Pada awalnya mereka merasa bukan siapa-siapa di dunia musik, tapi tetap memiliki mimpi. Mimpi mereka adalah suatu saat band mereka mampu di kenal di dunia musik mendatang.
KeykunoBerawal dari sebuah proyek solo yag akhirnya berkembang menjadi sebuah band, Keykuno resmi terbentuk pada tanggal 28 November 2004 di Jogjakarta. Band yang beranggotakan Dyka (vokal), Tyo (gitar), Bow (bass), dan Donny (drum) ini, membuat komposisi musik dari berbagai genre berbeda yang diolah dan menghasilkan satu musik simple, catchy dan fresh dengan aliran universal music sehingga mudah diterima dan dinikmati semua kalangan penikmat musik karena berkonsep easy listening.
Lovely TeaBand asal Surabaya ini terbentuk pada bulan September 2003. Dengan niat memperluas wawasan bermusik dan meningkatkan apresiasi, band ini mengusung jenis musik sweet pop dengan atmosfir yang girly. Band yang ingin eksistensi mereka dihargai dan diapresiasi oleh pendengarnya ini berpendapat bahwa selama ini industri musik selalu terjebak pada orientasi komoditi dan trend saja. Dengan semangat indie, mereka ingin membangkitkan kembali kebanggaan akan hasil karya musisi lokal yang seolah-olah telah hilang karena kurangnya dukungan masyarakat lokal sendiri. Personel band ini terdiri dari Irma Septiani (vocal), Agra Nurullah (drum), Rizky Andi (gitar), Deddy Asnanto (gitar), dan Gelar Ali (bass).
20 Februari 2007 - 16:43
Anak Bawang Penuh Kejutan
D’Rinos berteriak histeris saat mereka dinyatakan sebagai salah satu pemenang LA Lights Indiefest 2006 dan berhak masuk dalam album kompilasi. Bagaimana tidak, band yang terdiri dari Rano (drum), Amy (bass), Sigit (gitar) dan Rinaldi (vocal), mengikuti kompetisi band ini dengan kondisi yang pas-pasan. Bayangkan saja, mereka adalah band terakhir yang bisa mendaftar lewat radio Ardhan, Bandung. “Waktu kita ambil formulir, band yang antri pas di belakang kita udah gak dapet formulir. Jadi yang kita pegang waktu itu benar-benar formulir terakhir,” kata Amy, basis D’Rinos. Yang mengejutkan adalah D’Rinos menjadi satu-satunya band dari radio Ardhan yang menang.
Band ini sebenarnya bukan berasal dari Bandung, tapi dari Bekasi. Karena tidak ada pendaftaran di Jabodetabek, D’Rinos akhirnya bela-belain berangkat ke Bandung. “Kita daftar cuma modal nekat. Gak tau scene indie di Bandung lagi gimana. Dan pastinya gak punya massa juga di sana,” kata Amy. Namun lepas dari itu, secara mengejutkan, D’Rinos berhasil lolos ke semi final dan final regional.
Saat final regional di Stadion Siliwangi, mereka jelas minder. Sebagai band asal Bekasi, mereka gak punya massa. Sementara itu, finalis lain yang asal Bandung pastinya memiliki massa mereka sendiri. Namun di luar dugaan, saat giliran mereka tampil, penonton yang tadinya lesehan, langsung berdiri dan merapat di depan panggung. Tentu saja mereka terkejut, bahkan ada beberapa personil yang grogi menghadapi reaksi penonton seperti itu. Ditambah lagi begitu D’Rinos diumumkan sebagai pemenang, mereka benar-benar tidak percaya. “Waktu itu kita udah hopeless dan sama sekali gak kepikiran untuk bisa menang. Begitu tau kita menang, kita langsung teriak-teriak,” kata Sigit.
Wah selamat deh buat D’Rinos!
20 Februari 2007 - 15:15
LA Lights Persembahkan Album kompilasi 12 Band Finalis
LA Lights yang selalu mendukung semangat kebebasan berekspresi dan berkreasi para musisi muda Indonesia, dengan bangga mempersembahkan album kompilasi 12 band finalis ajang "LA Lights Indiefest 2006." Album ini berisi lagu-lagu dari 12 band terpilih melalui ajang "LA Lights Indiefest 2006" yang diselenggarakan dan ditayangkan hampir setahun penuh dimulai padaMaret 2006. Finalis ini merupakan hasil seleksi off air di beberapa kafe dan kampus, serta secara on air di beberapa stasiun radio.
Peluncuran album ini juga disertai dengan peluncuran video klip salah satu finalis, Hollywood Nobody dan showcase ke-12 finalis. Lagu-lagu dalam album ini sangat beragam. Mulai dari genre rock versi Vincent Vega, punk rock ala 70s Orgasm Club, pop, etro pop, trip hop, hingga nuansa semi bossas yang dipersembahkan Hollywood Nobody.
"Melalui peluncuran album Kompilasi 12 Final Singles LA Lights Indiefest 2006 ini, kami ingin kreasi independen para band ini bukan saja bisa dinikmati publik yang lebih besar tapi juga menjadi inspirasi bagi publik yang mendengarnya," kata Marketing Service Officer Djarum Bandung, Sigit Diopsaputra, di sela-sela peluncuran album kompilasi 12 band finalis ajang "LA Lights Indiefest 2006" di Cihampelas Walk Bandung, Sabtu (10/2) petang.
Sore itu, par finalis tampil dalam showcase yang, mendapat sambutan meriah pegunjung yang tampak memadati pelataran Ciwalk. Disebutkan, album kompilasi ini dijual secra resmi di toko-toko kaset terkemuka di seluruh kota besar di Indonesia. Dua belas single ini kini juga terseda di 22 negara melalui iTunes di www.equinoxdmd.com.
Sigit mengemukakan para finalis tampil bersanding dengan beberapa band papan atas indie sperti polyester Embassy, Rock n Roll Mafia, Mocca, dan The Sigit. "Para finalisjuga akan mendapat kesempatan berharga untuk tampil di berbagai even indie yang diadakan LA Lights sehinga karya mereka bisa di dengar lebih banyak khalayak," kata Diop.
LA Lights selalu mendukung semangat kebebasan berekspresi dan berkreasi dan berkomitmen untuk selalu mendukung kegiatan dan kalangan yang mengusung semangat yang sama. LA Lights mengadakan festival indie terakbar di Indonesia dengan tajuk "LA Lights Indiefest" yang diadakan setiap tahun di tiga kota besar di Indonesia, Yogyakarta, Bandung, dan Surabaya. Ternyata kegiatan ini sangat positif, ditandai dengan jumlah peserta yang mencapai 1.400an. "Para band peserta LA Lights Indiefest secara total mengeluarkan idealisme, kreativitas, kebebasan dan keunikan masing-masing dalam bermusik. LA Lights juga secara konsisten mengadakan dan mensponsori berbagai kegiatan yang mendukung semangat kebebasan berekspresi," kata Diop.
doc: Galamedia
20 Februari 2007 - 12:19
The SIGIT Memikat Komunitas Indie
Di hadapan ratusan pengunjung yang memadati Gedung Asia Afrika Culture Centre (AACC) Jln. Braga Bandung, Sabtu (10/2) malam, grup band asal Bandung yang tengah naik daun, The SIGIT tampil memikat saat memeriahkan acara bertajuk LA Lights Indiefest: Compilation Album 2006 The Launch.
Dalam acara launching album kompilasi 12 finalis LA Lights Indiefest yang dipandu pembawa acara Ringgo Agus Rahman dan Vecky Manengke, selain The SIGIT, juga tampil tiga grup band, Holywood Nobody, DRinos, dan Vincent Vega sera menampilkan aksi musik lainnya dari Mocca. Sebagai salah satu finalis asal Bandung, Hollywod Nobody unjuk kebolehan dengan membawakan tiga buah lagu karya mereka.
Mengawali penampilannya, Hollywod Nobody langsung memainkan tembang mereka "Kiss The Pain Away" di depan ratusan kawula muda pecinta musik indie. kemudian disusul lagu "Secret Nobody" dan "Betrayal." Band yag satu ii patut merasa bangga Pasalnya, dari 12 finalis, baru Hollywood Nobody saja yang sudah dibuatkan video klipnya. Jadi, tidak heran ketika mereka menyanyikan tembang "Kiss The Pain Away", di belakang ada siluet video klip mereka.
Kemudian di puncak acara, The SIGIT yang diformasikan Rekti (vokal dan gitar), Farri (gitar), Aditya (bas) dan Donar (drum) mengawali penampilannya dengan tembang "Soul Sister." Seiring Rekti menyanyikan tembang ini, penonton pun turut mendendangkan bait demi bait lirik lagu yang dilantunkan Rekti. Belakangan, nama grup musik yang satu ini memang sedang digilai remaja, khususnya di Kota Kembang. Pasalnya, Rekti cs mampu memberikan sebuah suguhan musik yang sedikit berbeda diandingkan band indie lainnya.
Hal ini terbukti dengan alunan musik rock yang diusung oleh The SIGIT yang dikawinkan dengan irama musik lainnya. Hasilnya sebuah warna baru dari musik rock yang memang enak untuk didengar. Setelah memanjakan para pecinta musik indie, akhirnya The SIGIT menutup penampilan mereka dengan menyanyikan tembang "Clove Doper."
16 Oktober 2006 - 17:29
Folk Rock Dari VOX
Buat yang ga ngerti gimana sih suara folk-rock itu? Lebih baik dengerin hasil alunan musik karya Donie Setyohandono (vokal, organ), Gabriel Mayo (drum), Joseph Sudiro (bass) dan Vega Antares (gitar elektrik) yang tergabung dalam VOX. VOX sendiri terbentuk secara tidak sengaja pada bulan Desember 2005.
Nah disela-sela rekaman mereka di Bandung, anak-anak VOX yang asli berasal dari Surabaya itu sempat ngobrol sedikit soal band mereka. Ternyata keikutsertaan mereka diajang LA Lightsindiefest ini adalah karena konsep LA Lights Indiefest yang sangat kuat (ini menurut mereka lho).
VOX ternyata memang antusias banget, soalnya di Surabaya sendiri ternyata sampai 600-700 band yang ikut. VOX memilih untuk ikutan karena ajang ini membawa nama kota dan scene indie Surabaya untuk lebih dikenal, selain itu juga karena konsep acaranya yang enjoy aja.
Sebagai band yang berawal dari kesamaan selera musik dan tidak adanya vokalis utama, saat ini VOX mengaku bahwa target tahun depan sebenarnya seacara individu, para anggota udah punya target masing-masing, tapi yang pasti buat band mereka akan terus bekerja. Kerja keras mereka ini berbuah lagu I'll See You dalam album kompilasi LA Lights Indiefest.
21 Juli 2006 - 19:34
Sekarang saatnya Final Regional!
Ada lebih dari 1400-an band indie asal kota Bandung, Jogja dan Surabaya yang telah mendaftarkan band mereka di ajang LA Lights Indiefest melalui radio partnernya LA Lights Indiefest, yaitu:Bandung: Oz, Ardan, 99ersJogja: Geronimo, Swaragama, Star Fm, Prambors FMSurabaya: Hard Rock FM Surabaya, Colors, EBS, DJFMBanyaknya peserta ini benar-benar ngebuktiin bahwa ternyata banyak musisi-musisi diluar sana dengan kompetensi tinggi yang membutuhkan dukungan untuk menyalurkan musik asli mereka.
Saat ini, ini sudah ada total 40 Finalis Band Indie terpilih dari 3 kota yang siap berlaga di arena Final Regional LA Lights Indiefest. Sebelumnya, mereka telah diuji kemampuannya baik lewat on air radio, maupun bermain musik secara live didepan publik dan dewan juri yang terdiri dari Fast Forward Records, MD Radio, dan LA Lights. Untuk itu tentu dibutuhkan mental juara untuk sukses dalam ajang ini, terlebih pada akhirnya nanti mereka harus tampil di hadapan ribuan pengunjung pada saat acara puncak Final Regional LA Lights Indiefest di kota berikut:Surabaya, 22 Juli 2006 : Lapangan SawunggalingBandung, 29 Juli 2006 : Stadion SiliwangiJogja, 5 Agustus 2006 : UNY
Hasil final regional ini akan menentukan 12 band yang akan masuk ke album kompilasi LA Lights Indiefest bekerja sama dengan Fast Forward Records.
30 Juni 2006 - 14:44
Top 40 Band List
JOGJAKARTAGeronimo:1. Govinda – Kau Dan Dia2. Key Kuno – Cerita Esok Hari3. 13 Fighting – Like A Friend4. Chocolate Dream Berry – Pilih
Swaragama:1. Anggisluka – Merah Muda2. Dojihatori – This Soul3. Plasticdolls – Plasticdolls4. Airport Radio – Shattered Life
Star FM:1. Saka Guru - Dia2. Fivty Tousens – Hujan3. Gerbang – Cerpen4. Gent’s – Yang Belum Kau Tahu
Prambors Jogja:1. Hieda – Tentang Aku dan Kamu (Adinda)2. Bagaikan – Hey!3. Orbeat – Dari Mimpi4. Weedee – Pandangan Pertama
SURABAYAEBS FM1.Seffy-Senja2.Chocolatino-Ku Tak Tahu3.Atsui-Kau tak pernah tau
HardRock FM1.VOX- I’ll see You (Joseph 0818306083)2.63 Kg-you’re Beautiful (bayu 08179730003)3.Kreshna-Hancurkanku (Dayek 081553648000)
Colors Radio1.Innuendo-Untitled2.MB Band-Yang Tak Sempurna3.Awe- Untukmu Beda (Riyadh/081803058206)
DJFM1.The Trees-Only Otherside2.Lovely Tea- Train3.Mayday-Bangku Taman
BANDUNGOZ1.Vincent Vega - Shane2.C Cord - Choice3.70's Orgasm - Peppermint Insect4.Pegawai Negeri - You can take my heart
Ardan1.Crave - Change the sound2.The Rinos - Beri waktu seminggu3.The Wax - Tak bisa mencintai4.Revival - Teriak
99ers1.Hollywood Nobody - Kiss the pain away2.The perfect angel - Jingga3.The Thirteen - Tambourine4.Semut - Tak pernah cemburu..
28 Juni 2006 - 05:07
Jadwal Final Regional
Ini jadwal final regional LA Lights Indiefest 2006, inget-inget, kalau perlu dicatet biar ga lupa brur.- Surabaya, 22 Juli 2006, Lapangan Sawunggaling- Bandung, 29 Juli 2006, Stadion Siliwangi - Yogya, 5 Agustus 2006, Lapangan UN
27 Juni 2006 - 20:53
Bukan Kompetisi Band Biasa! (1)
Pertama kali digelar tahun ini, L.A Lights Indifest 2006 sukses menyaring ribuan band sebagai peserta. Sebenernya, band seperti apa sih yang dicari?
Attention to all music lovers! Tahun ini telah digelar sebuah festival musik seru yang enggak biasa. Namanya LA Lights Indiefest 2006!. Kenapa enggak biasa? Karena festival musik ini diperuntukkan khusus untuk band-band indie dan digelar langsung di Bandung, Surabaya dan Yogyakarta. Tiga kota yang diyakini sebagai kota-kota yang produktif melahirkan band-band indie berkualitas.
Pemilihan band indie sebagai peserta festival didasari oleh perkembangan musik indie yang cukup melesat beberapa tahun belakangan. Bahkan, dari jalur independenpun sudah banyak band yang dikenal seantero nusantara. Bukan kelas lokal saja."Seiring dengan bertambahnya jumlah band indie yang berkualitas, diperlukan suatu wadah yang mampu menampung kreativitas pelaku industri independen ini. Nah, LA Lights Indiefest dimaksudkan sebagai salah satu wadah yang bisa digunakan untuk menampung karya anak-anak indie di seluruh Indonesia," jelas mbak Rani Felani, national promotion PT. Djarum selaku penyelanggara.
Bagaimana caranya LA Lights Indiefest bisa menjadi wadah untuk band-band indie? Pertanyaan ini jelas harus dicermati. Sebagai gebrakan pertama, LA Lights sebagai sponsor gelaran telah membuat publikasi seputar pelaksanaan acara ini Beberapa bulan sebelum tenggat waktu pengumpulan demo. Sebagai media pengumpul, LA Lights bekerja sama dengan tiga sampai empat radio di masing-masing kota. Hasilnya, jumlah demo yang terkumpul sampai deadline mencapai 1450 keping.
"Total 1450 demo itu lantas diseleksi oleh tim dari Fast Forwatds Records, sebuah label indie Bandung untuk nantinya disisihkan sebanyak 10 band yang jadi unggulan di masing-masing radio. Total 110 lagu dari 110 band ini mendapat kesempatan untuk masuk airplay radio. Dan pendengar dipersilahkan memilih band indie idolanya dan total 10 band di tiap tradio itu melalui voting SMS," sambung mbak Rani lagi.
Ngomong-ngomong, kayak apa sih sebenarnya band yang dicari?. "Sebenernya sih, yang kami cari adalah band yang sesuai dengan karakter label kami. Band indie pop yang punya style dan karakter. Serunya dari seribu sekian demo, sudah banyak yang kami pikir sesuai dengan yang kami cari. Bahkan dari Surabaya, yang tadinya dipikir bakal ngerock banget," tutur Marin dari Fast Forwards Records.
Sumber: Dok HAI
27 Juni 2006 - 20:55
Bukan Kompetisi Band Biasa (2)
Selain lagunya diperkenalkan di radio, band-band indie itu juga mendapat kesempatan untuk tampil di atas panggung memperlihatkan musikalitas secara live di depan penonton. Artinya, kemampuan bermusik mereka memang beneran diuji, bukan sekedar mengandalkan demo yang sudah dikirim ke radio.
Nantinya, di masing-masing radio bakal dipilih 3-4 band indie yang melaju ke babak final regional yang jadwalnya bisa dilihat di bawah. Di Surabaya bakal ada 12 band, di Yogya ada 16 band dan di Bandung ada 12 band. Dari total 40 band ini baru deh dipilih 12 band yang berlaga di babak grand final.
"Kedua belas band ini bakal dapat kesempatan nyumbangin salah satu lagunya ke dalam album kompilasi, Nantinya, album kompilasi ini bakal dirilis di bawal label Fast Forward Records," bilang Marin.
Selain dapat kesempatan merilis album kompilasi, band-band ini juga berhak memperebutkan kesempatan untuk dibuatkan video klip. Karena hanya ada satu band yang nantinya bakal dibuatkan video klip di album kompilasi ini. Tentunya, band yang dibuatkan kompilasi adalah band yang dinilai punya nilai jual tinggi. Entah dari lagu maupun aksi panggungnya.
Sampai sekarang, lokasi grand final LA Lights Indiefest 2006 masih dirahasiakan. Sementara, pantengin dulu aja jadwal final regional yang ada di bawah. Terus, datengin deh barengan teman-teman!
Diposting oleh
sheffield toADs
di
03.05
0
komentar
Label: zero2hero